Sejarah Berdirinya Satuan Bravo 90 Kopasgat TNI AU
Sejarah Berdirinya Satuan Bravo 90 Kopasgat TNI AU
Oleh: TOTO
BANDUNG | BONGKARR.COM | Kamis, 12 Feb 2026 | 20.32 WIB -
Satuan Bravo 90 merupakan satuan elit antiteror TNI Angkatan Udara yang lahir pada era kepemimpinan Marsekal Pertama (Marsma) TNI Maman Suparman saat menjabat Komandan Pusat Pasukan Khas TNI AU (Puspaskhas) pada tahun 1990. Pembentukan satuan ini dilatarbelakangi kebutuhan TNI AU untuk memiliki pasukan khusus yang mampu melaksanakan operasi antiteror serta penindakan terhadap ancaman yang berkaitan langsung dengan kepentingan operasi udara.
Gagasan pembentukan satuan khusus tersebut muncul dari para perwira Paskhas saat itu, yakni Marsdya TNI (Purn.) Budhy Santoso yang menjabat sebagai Direktur Operasi Puspaskhas (Asops Korpaskhas) berpangkat Letkol, serta Kolonel Paskhas (Purn.) Wahyu Widjojo yang menjabat Komandan Depolat/Wing III dengan pangkat Letkol. Keduanya merupakan alumni Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 1968 dan menjadi penggagas utama konsep satuan elit di lingkungan Paskhas.
Proses pembentukan pasukan dilakukan melalui seleksi ketat terhadap sekitar 250 personel pilihan Paskhas. Seleksi meliputi tes psikologi, kesamaptaan jasmani, kemampuan tempur, serta penguasaan pengetahuan militer. Dari proses penyaringan tersebut, hanya 30 prajurit terbaik yang dinyatakan lulus untuk mengikuti pendidikan dan latihan lanjutan sebagai embrio atau cikal bakal berdirinya Detasemen Bravo 90, yang kini dikenal sebagai Satuan Bravo 90 Kopasgat TNI AU.
Satuan ini kemudian resmi dikukuhkan pada 16 September 1990 oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) saat itu, Marsekal TNI Hanafie Asnan. Sejak awal, konsep operasional Bravo dirancang fleksibel, bahkan memungkinkan personelnya bergerak tanpa identitas satuan, menyatu dengan satuan Paskhas lain atau bergerak secara individual sesuai kebutuhan operasi.
Konsep pembentukan Satuan Bravo 90 juga merujuk pada pemikiran strategi udara Jenderal Giulio Douhet, yang menyatakan bahwa kekuatan udara musuh lebih efektif dilumpuhkan dengan menghancurkan pangkalan, instalasi, dan alutsistanya di darat daripada bertempur di udara. Prinsip inilah yang menjadi dasar peran strategis Bravo dalam mendukung operasi udara.
Dalam operasinya, Bravo 90 bertugas melaksanakan operasi intelijen, melumpuhkan instalasi dan alutsista musuh guna mendukung operasi udara, serta menangani aksi terorisme khususnya pembajakan pesawat dan ancaman terhadap objek vital penerbangan. Satuan ini juga dapat menjalankan operasi khusus lain sesuai kebijakan Panglima TNI.
Sebagai pasukan elit, personel Bravo 90 dibekali berbagai kualifikasi tempur tingkat lanjut, antara lain combat free fall, HALO/HAHO, scuba diving, pendaki serbu, para lanjut tempur, dalpur trimedia (darat, laut, udara), selam tempur, tembak kelas satu, komando lanjut, serta penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka juga menjalani latihan menembak dengan amunisi tajam dalam jumlah jauh lebih besar dibanding pasukan reguler guna meningkatkan kecepatan dan akurasi tembakan dalam situasi krisis.
Aktif tanggal 12 Februari 1990 sebagai lahirnya Satuan Bravo 90 dtahun 2026 sudah ke 36 tahun dan Satuan ini memiliki moto “Catya Wihikan Awacya Makaphala”, yang bermakna Setia, Terampil, dan Berhasil. Moto tersebut mencerminkan karakter utama prajurit Bravo 90 dalam menjalankan setiap tugas.
Dalam struktur organisasi, Satuan Bravo 90 memiliki tiga detasemen operasional, yaitu Detasemen 901 dengan spesialisasi intelijen, Detasemen 902 untuk aksi khusus, serta Detasemen 903 yang berfokus pada bantuan teknik khusus. Meski memiliki spesialisasi berbeda, seluruh detasemen tetap memiliki kemampuan merata dalam operasi kontra-terorisme.
Satuan Bravo 90 juga tergabung dalam Pusat Pengendalian Krisis (Pusdalsis) BNPT bersama satuan elit lainnya seperti Sat-81 Gultor Kopassus TNI AD, Denjaka TNI AL, serta Gegana Korps Brimob Polri, yang siap diterjunkan dalam penanganan aksi terorisme nasional, termasuk pembajakan pesawat.
Untuk menjaga profesionalisme, personel Bravo juga rutin berlatih bersama satuan elite lain seperti Kopassus, Kopaska, dan Denjaka. Satuan ini juga memiliki fasilitas latihan Close Quarter Battle (CQB) modern, termasuk latihan pembebasan sandera langsung di pesawat milik TNI AU maupun PT Dirgantara Indonesia.
Menariknya, Bravo 90 juga menjadi satuan khusus pertama di Indonesia yang mempelajari bela diri Systema, teknik tempur khas pasukan elite Rusia yang menekankan pengendalian tubuh, pernapasan, dan reaksi tempur efektif.
Kini, lebih dari tiga dekade sejak berdirinya, Satuan Bravo 90 Kopasgat TNI AU tetap menjadi ujung tombak operasi khusus Angkatan Udara dalam menjaga kedaulatan serta keamanan ruang udara Indonesia.(*)